081334198058 sman2_wahau@yahoo.co.id

Yang Tak Terlihat Dibutuhkan Kepekaan terhadap Invisible Illness

Berita

Yang Tak Terlihat Dibutuhkan Kepekaan terhadap Invisible Illness

20 May 2026
Yang Tak Terlihat Dibutuhkan Kepekaan terhadap Invisible Illness

        Senin pagi seperti hari-hari biasanya semua guru menyambut kedatangan siswa dengan senyum hangat. Melihat beberapa siswa dengan pakaian yang rapi datang diantarkan orang tua kesekolah. Bel pun berbunyi, seperti rutinitas setiap hari senin yaitu sekolah SMAN 2 Muara Wahau selalu melakukan rutinitas upacara dihalaman sekolah. Selama berlangsungnya upacara tidak jarang saya melihat beberapa siswa dan siswi pingsan ataupun ijin tidak mengikuti upacara dan beristirahat di UKS sekolah. Bagi kami itu adalah hal biasa yang tidak perlu dikhawatirkan.

        Jam pertama pembelajaran matematika, saat pembelajaran dikelas beberapa siswa dan siswi  terlihat tidak fokus dalam pembelajaran, pembelajaran sudah berjalan selama 30 menit, tetapi ada beberapa siswa yang hanya duduk diam, ada yang menunduk dimeja dan tidak memperhatikan papan tulis. Saat pembelajaran jam pertama selesai, saya memanggil siswa dan siswi yang tidak fokus selama pembelajaran tadi. Ada 3 siswa yang saya panggil dan 2 diantaranya adalah siswa yang pingsan saat upacara. Saya menanyakan kepada mereka “kenapa selama pembelajaran mereka diam saja bahkan ada yang tidur dimeja?” Dengan rasa penasaran, saya menanyakan kondisi masing-masing dari siswa tersebut. Sakinah menjawab dia merasa dadanya sesak. Adit merasa sakit kepala, dia menahan sakit gigi yang teramat sakit sehingga dia hanya menunduk selama pembelajaran, sedangakan Memei yang diam saat pembelajaran karena tidak mengerti tulisan dipapan tulis, dia melihat tulisan tersebut bergoyang bahkan seperti garis.

          Mendengar kondisi mereka saya hanya bisa diam dan menahan nafas,  saya merasa tertampar atas ketidakpekaan saya mengenai kondisi siswa. Siswa yang selama ini kami anggap hanya pendiam, malas, tidak disiplin, atau hanya suka tidur dikelas ternyata mengalami gangguan kesehatan. Melihat mereka yang sudah duduk di bangku SMA kami bahkan orangtua sekalipun menganggap bahwa mereka sudah besar, sudah bisa mengurus diri mereka sendiri. Ternyata kami salah, dibalik seragam putih abu-abu mereka, dibalik senyum hangat mereka setiap hari menyimpan kondisi tubuh yang tidak sehat yang bahkan siswa sendiripun tidak sadar akan hal tersebut.

          Kami menyadari pendidikan tidak hanya mengenai nilai akademik, proses mentransfer ilmu, patuh atas aturan sekolah, atau mengejar target pembelajaran sebagi tolak ukur kognitif. Pendidikan lebih luas dari itu, pendidikan sejati merupakan proses pembentukan manusia. Sebagai seorang guru sudah selayaknya kita berempati, peka terhadap kondisi siswa. Siswa diamanahkan kepada kami, dan kami sebagai guru bertanggung jawab atas pendidikan sosial maupun intelektual mereka, salah satunya peka terhadap kondisi kesehatan siswa.

           Sebagai seorang guru sudah tugas kami untuk mempersiapkan kondisi siswa agar mereka bisa mengikuti pembelajaran dengan nyaman dan khidmat. Jika mereka sakit tentu saja mereka tidak bisa berpikir kritis, kreatif dan inovatif. Peristiwa ini membuat saya cemas dan khawatir, saya bertanya-tanya, bagaimana dengan kondisi siswa yang lainnya? Apa mereka juga mengalami gangguan pada kesehatannya? Bagaimana mereka bisa fokus belajar sedangkan kondisi mereka saja tidak memungkinkan?

           Saya sadar bahwa anak-anak dilingkungan saya adalah anak-anak dari petani atau pengusaha UMKM dimana mereka harus berangkat subuh dan pulang sore. Beberapa siswa ada yang rumahnya sangat jauh jadi agar memudahkan akses mereka kesekolah, siswa memilih untuk ngekos dan beberapa tinggal di asrama. Jadi wajar saja jika pihak orang tua juga tidak tau bagaimana kondisi anak mereka, jadi mereka juga tidak bisa mengkomunikasikan kepada kami.

          Ditengah kecemasan dan kekhawatiran kami, datang secercah harapan melalui program “Cek Kesehatan Gratis” salah satu program dari Bapak Presiden Prabowo Subianto, program ini untuk mendeteksi dini masalah kesehatan dan mental siswa. Dengan kerjasama antara UKS dan Puskesmas setempat untuk melakukan screening awal kesehatan. Pengecekan yang dilakukan ada pengecekan tinggi badan, berat badan, ukuran lila, tekanan darah, tes kadar Hemoglobin, pengecekan mata, pengecekan telinga, pengecekan gigi dan diakhir siswa diminta untuk mengisi kuisioner.

          Hasilnya sungguh sangat mengejutkan, beberapa siswa kami ada yang mengalami gangguan penglihatan salah satunya siswa yang pernah saya panggil sebelumnya dia mengalami rabun jauh sekaligus silinder. Berdasarkan tinggi badan dan berat badan, beberapa siswa mengalami obesitas makanya dadanya terasa sesak dan dia gampang lelah. Ada juga siswa perempuan yang ukuran lila nya kecil, siswa tersebut disarankan untuk menambah asupan nutrisi harian. Tidak sedikit siswa perempuan mengalami masalah anemia, dan banyak juga siswa yang mengalami masalah kesehatan pada giginya ada yang mempunya karang gigi maupun gigi berlubang.

          Kami sebagai guru merasa sangat terbantu atas program “Cek Kesehatan Gratis” ini, hal ini membantu kami memetakan kondisi siswa sehingga tidak salah dalam memberikan penilai atau perlakuan, Screening kesehatan gratis ini juga membantu kami untuk membuat program lanjutan, data dari puskesmas kami sampaikan kepada orang tua siswa. Agar orang tua tau mengenai kondisi kesehatan anaknya.  Siswa yang memiliki masalah kesehatan mata dianjurkan untuk melakukan pengecekan lanjutan dipuskesmas agar nantinya diketahui oleh orang tua apakah siswa harus memakai kacamata atau tidak. Bagi siswa yang mengalami masalah karang gigi dan gigi berlubang, kami bekerjasama dengan dokter gigi untuk melakukan edukasi bagaimana cara sikat gigi yang benar, dan cara merawat gigi, dan siswa yang tersebut juga dianjurkan untuk membersihkan karang gigi di dokter gigi atau di puskesmas. Bagi siswa yang mengalami anemia, kami buatkan program minum obat penambah darah satu minggu sekali yang kami laksanakan setiap hari jumat, dan penyuluhan dari pihak puskesmas mengenai manfaat minum obat penambah darah, dan menjaga nutrisi harian. Para wali kelas menyusun tempat duduk siswa yang mengalami gangguan kesehatan ke bangku barisan depan.

         Mungkin bagi beberapa orang program ini hanya hal baisa. Tetapi bagi guru, siswa maupun orang tua berkat adanya program ini dapat melakukan penanganan awal dengan cepat sebelum kondisi ini mengganggu fungsi belajar dan tumbuh kembang siswa. Sekarang semua Masyarakat disekolah sudah mulai peka terhadap kondisi kesehatan, terjalinnya komunikasi dan toleransi yang baik, serta kolaborasi dalam rangka mengoptimalkan kondisi kesehatan fisik maupun mental siswa.

 

“Keseimbangan dalam menjaga kesehatan fisik dan mental merupakan fondasi utama agar siswa berprestasi dan tumbuh cemerlang.”