081334198058 sman2_wahau@yahoo.co.id

Ketika Cahaya Teknologi Menghidupkan Suasana Kelas

Berita

Ketika Cahaya Teknologi Menghidupkan Suasana Kelas

20 May 2026
Ketika Cahaya Teknologi Menghidupkan Suasana Kelas

Sekolah-sekolah di kota besar mulai menggunakan berbagai teknologi modern untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Namun, tidak semua daerah di Indonesia dapat merasakan perkembangan tersebut secara merata. Terutama Daerah 3T, yaitu daerah terdepan, terluar, dan tertinggal, masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam dunia pendidikan, terutama kurangnya tenaga pengajar dan terbatasnya sarana pembelajaran. SMA Negeri 2 Muara Wahau juga termasuk sekolah jauh dari perkotaan, butuh menempuh perjalanan kurang lebih sekitar 10 jam jalur darat untuk sampai di perkotaan.

Oleh karena itu, digitalisasi pembelajaran melalui penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Dulu sebelum adanya perkembangan teknologi, Pembelajaran Di kelas Sekolah SMA Negeri 2 Muara Wahau identik menggunakan papan tulis dan terasa monoton, namun sekarang dengan perkembangan teknologi mulai mengubah cara belajar menjadi lebih menarik dan aktif.

Pagi itu suasana kelas terasa berbeda dari biasanya. Saat pembelajaran dimulai, di depan kelas tidak lagi terlihat papan tulis yang biasanya digunakan di kelas dengan menggunakan spidol dan murid hanya duduk mendengarkan dan mencatat saja, melainkan sebuah layar besar interaktif atau Interactive Flat Panel (IFP). Semua siswa tampak penasaran ketika guru mulai menyalakan layar tersebut. Layarnya sangat besar, para siswa di kelas merasa bahwa kami akan menonton bioskop tetapi di sekolah. Dengan penggunaan Interactive Flat Panel (IFP), pembelajaran yang biasanya hanya menggunakan papan tulis kini menjadi lebih menarik. Dengan guru dapat menampilkan materi pembelajaran dalam bentuk gambar, video, ataupun animasi untuk menjelaskan materi.

Saat menjelaskan, guru juga dapat menulis langsung pada layar dengan menggunakan stylus sama seperti menulis pada papan tulis biasa. Contohnya: pada pembelajaran matematika guru tidak lagi kesulitan dalam menggambar grafik di papan tulis, dengan adanya IFP guru jadi lebih mudah untuk menggambar langsung pada layar. Contoh lainnya, pada pembelajaran kimia biasanya hanya beberapa siswa yang antusias dan memperhatikan materi, dengan penggunaan IFP yang dapat menampilkan video tentang percobaan laboratorium hampir seluruh siswa di kelas antusias dan memperhatikan materi, karena pembelajarannya menjadi lebih hidup dan berwarna serta memudahkan dalam memahami materi.

Suasana di kelas yang dulunya hanya biasa saja menjadi lebih hidup. Dengan siswa lebih fokus untuk mendengarkan penjelasan dari guru karena penyampaian materinya yang menarik, karena terlihat lebih jelas dan berwarna. Tidak hanya guru yang aktif menggunakan teknologi tersebut, siswa juga dapat diminta untuk maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal langsung pada layar dengan menggunakan stylus. Contohnya: siswa diminta maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal matematika dari guru. Hal tersebut dapat membuat siswa menjadi lebih percaya diri dan berani menjawab soal.

Penggunaan teknologi digital tersebut atau IFP memberikan manfaat bagi guru. Dengan guru dapat mengakses berbagai sumber pembelajaran yang lebih luas dengan penggunaan internet, dan guru dapat menyimpan hasil pembelajaran secara digital sehingga mudah untuk digunakan kembali. Meskipun memberikan banyak manfaat, penggunaan IFT juga memberikan tantangan. Tidak semua guru dan siswa langsung terbiasa menggunakan teknologi tersebut. Beberapa guru memerlukan waktu untuk memahami dan mempelajari cara penggunaan perangkat agar pembelajaran berjalan dengan lancar.

Di sisi lain, penggunaan teknologi harus digunakan dengan bijak. Dengan adanya IFT bukan berarti menggantikan peran guru sepenuhnya. Guru tetap memiliki peran penting dalam penyampaian materi, membimbing, dan mengarahkan siswa. Teknologi hanyalah alat bantu untuk memudahkan penyampaian materi dalam pembelajaran. Menurut saya, penggunaan IFT di daerah 3T merupakan salah satu langkah baik untuk menciptakan pemerataan pendidikan di Indonesia. Teknologi membantu mengurangi kesenjangan pendidikan antara daerah perkotaan dan daerah terpencil. Siswa di daerah 3T memiliki hak untuk mendapatkan pembelajaran yang berkualitas dan menarik.

Pada akhirnya, pembelajaran bukan hanya tentang penggunaan teknologi modern di sekolah, tetapi juga tentang memberikan kesempatan belajar yang baik untuk siswa/i dari sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Dengan dukungan dan penggunaan IFT yang tepat, keterbatasan guru di daerah 3T dapat sedikit demi sedikit teratasi. Kemampuan menggunakan teknologi dengan baik adalah keterampilan yang perlu ditingkatkan di era digital seperti sekarang. Pendidikan yang merata dapat membantu menciptakan generasi muda yang siap menghadapi perkembangan zaman serta membangun masa depan Indonesia lebih maju.